Senin, 12 November 2012

Mobil Sporty Dan Handal Jadi Pilihan




Sebagai alat transportasi modern, mobil kini tak lagi sekadar sebagai alat angkut penumpang dan barang. Mobil juga sudah menjadi bagian dari gaya hidup, hobi, fashion, bahkan memiliki nilai estetik tersendiri bagi sebagian kalangan. Pilihan terhadap sarana transportasi satu ini pun bukan lagi pada fungsi dan kebutuhan, tapi lebih kepada selera dan teknologi. Orang memilih mobil berdasarkan pada status sosial, gender, profesi, hobi, dan pragmatisme individu. Mereka menjadikan mobil ajang mengaktualisasikan diri.

Maka, segmentasi pilihan terhadap mobil yang dipakai pun beragam. Orang kaya dan berstatus sosial tinggi tentu memilih mobil mewah dengan harga selangit lengkap dengan teknologi mutakhir di dalamnya. Sementara kelas menengah ke bawah memilih mobil disesuaikan dengan kantong. Meski demikian mereka juga tetap mengutamakan kualitas, performa, teknologi, dan desain. Adalagi segmentasi pilihan mobil berdasar hobi, komunitas, atau profesionalitas. Mobil sport disukai mereka yang suka balapan, mobil antik dan mobil dengan kualifikasi tertentu disukai para kolektor atau komunitas, mobil keluarga disukai oleh mereka yang anaknya banyak, mobil berjenis city car yang small and smart disukai eksekutif muda.

Kini bahkan ada kecenderungan memilih mobil dengan memadukan semua unsur kebutuhan. Mereka menginginkan mobil berjenis SUV (Sport Utility Vehicle) dengan teknologi mutakhir yang tidak hanya bisa digunakan berpetualang, tetapi juga cukup elegan dan excited untuk dibawa ke kantor maupun mengajak anggota keluarga jalan-jalan. Daihatsu sebagai produsen mobil terpercaya sejak puluhan tahun silam menangkap trend pasar konsumen mobil. Mereka kemudian menciptakan mobil Terios 7-Wonders yang tidak hanya handal dalam menempuh perjalanan jauh, mengarungi medan berat dan sulit, tetapi juga memperhatikan segi safety, kenyamanan, desain eksterior dan interior, teknologi mutakhir, serta hemat bahan bakar.

Ini terbukti dari tour perjalanan panjang tim Terios 7-Wonders sepanjang 3.657 km selama 15 hari dari VLC Sunter Jakarta hingga mencapai tugu “Nol” kilometer di Sabang, Aceh tak mengalami kendala berarti. Tak ada satu pun dari mobil Terios 7-Wonders mengalami kerusakan. Perjalanan panjang yang melewati beberapa kota di lintas Sumatera hakekatnya adalah perjalanan wisata dan budaya. Para anggota tim yang mengikuti tour bisa menikmati berbagai pemandangan indah sepanjang perjalanan. Mereka juga mengenal beragam bentuk seni dan budaya daerah di tiap kota yang disinggahi. Hal ini tentu akan semakin menambah pengetahuan dan wawasan mereka. Ternyata Indonesia sangat kaya akan keanekaragaman seni budaya yang elok. Salah satu kekayaan negeri yang mampu menjadi daya tarik wisatawan mancanegara, sehingga mampu menambah devisa negara.

Arti Petualang

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, kata petualang berasal dari kata dasar tualang yang artinya; pengembara, tidak tentu tempat tinggalnya, berkeliaran. Sementara kata petualang sendiri berarti orang yang suka mencari pengalaman sulit-sulit atau berbahaya. Maka, bisa dikatakan bahwa petualang merupakan seseorang yang memiliki jiwa pemberani, tangguh, liat, teguh, dan ambisius. Petualang merepresentasikan keinginan untuk menaklukkan tantangan, hambatan, kesulitan, dan aral bahaya. Predikat petualang ini pun kemudian disematkan kepada mereka-mereka yang hobi mendaki gunung, panjat tebing, menjelajah rimba, mengarungi lautan ganas, menyusuri daerah terpencil/pelosok, dan berbagai kegiatan lainnya yang mengandung resiko besar.

Pada zaman dahulu petualangan biasanya dihubungkan dengan usaha untuk menaklukkan suatu wilayah guna dijadikan koloni dan sumber daya ekonomi baru. Para petualang besar seperti Marcopolo, Vasco da Gama, Chistoper Colombus, dan yang lainnya, berambisi menemukan tanah-tanah baru serta sumber kekayaan alam yang berlimpah. Perburuan kekayaan alam yang sangat berharga seperti rempah-rempah, emas, perak, tembaga, dan lain sebagainya menjadi tujuan utama. Tak peduli hal itu kemudian dibarengi dengan usaha genosida, yakni menumpas penduduk setempat. Terlepas dari implikasi buruk dari kegiatan berpetualang oleh kaum imperialis itu, kisah para petualang ini pun mendapatkan tempat istimewa di tengah masyarakat. Pengalaman mereka dalam menaklukkan tantangan dan mara bahaya yang menghadang sangat luar biasa, sehingga menimbulkan kesan heroik.

Di zaman modern sekarang, kisah petualangan tidak lagi identik dengan kegiatan kolonialisme atau perampokan, tetapi lebih kepada olah raga dan hobi. Berpetualang biasanya dilakukan oleh mereka yang bosan atau jenuh dengan kemapanan. Mereka yang merasa suntuk dengan rutinitas kerja dan suasana kehidupan metropolis yang serba formal, kemudian berusaha mencari suasana baru dengan melakukan kegiatan outbound. Pergi ke daerah pedesaan, hutan, gunung, laut, dan tempat-tempat lain yang jauh dari kota. Biar pun harus menghadapi banyak tantangan, hambatan, kesulitan, dan kendala yang cukup beresiko, namun hal itu dihadapi mereka dengan senang hati. Pun kegiatan ini sangat melelahkan dan menguras energi, namun memberi suatu kepuasan. Sebab, tujuan mereka berpetualang tak lain adalah refreshing dan exciting.

Penggemar petualangan pun kini makin banyak dan beragam, tidak hanya dari kalangan tertentu yang hobi berpetualang, tapi juga mereka yang pengen merasakan aroma adventure. Berpetualang menjadi trend baru di kalangan masyarakat perkotaan, khususnya kaum eksekutif muda. Sebab, berpetualang tidak melulu harus berhadapan dengan bahaya. Menjelajahi kota-kota atau daerah sembari menikmati pemandangan alam nan eksotik juga bisa dibilang berpetualang. Sarana mobilitas pun tidak mesti dengan kendaraan jenis offroader seperti jeep dengan chasis yang tinggi, ban karet besar, dan kap yang terbuka. Mobil jenis SUV yang elegan dan cantik pun bisa menjalani fungsi berpetualang. Sebab, mobil jenis ini ditengarai sangat handal, tangguh, sekaligus sangat excited untuk diajak menjelajah.

Konsep Mobil Petualang


Memenuhi harapan para traveller, produsen mobil ternama Daihatsu kemudian meluncurkan mobil Sahabat Petualang berjenis SUV dengan nama Terios 7-Wonders. Konsep mobil sahabat petualang yang dicetuskan oleh Daihatsu dengan ikon-nya Terios 7-Wonders tentu sangat menarik dan disambut hangat oleh konsumen mobil. Sebab, baru kali ini ada produsen mobil kelas dunia mencetuskan ide seperti ini. Mobil yang dimaksud itu tidak semata merupakan sarana transportasi untuk kebutuhan kerja atau harian, tetapi juga memenuhi kebutuhan akan hoby dan gaya hidup. Banyak kalangan, terutama para eksekutif muda, memiliki hobi touring dan berpetualang. Di tengah kesibukan kerja yang menyita tenaga dan waktu mereka berharap bisa melepas penat barang sejenak. Mereka membutuhkan refreshing atau relaksasi. Salah satunya adalah dengan menyalurkan hobi berpetualang.

Seperti yang penulis paparkan di awal, kegiatan touring Terios 7-Wonders menjelajahi wilayah Sumatera dengan start dari Jakarta menuju Sabang telah membuktikan bahwa mobil ini sangat pantas disebut sebagai Mobil Sahabat Petualang. Kinerjanya yang bagus di setiap trek yang dilalui, ketahanan mesin, aerodinamika mobil yang halus, ketangguhannya dalam menempuh medan sesulit apa pun, dan performanya yang elegan tak perlu diragukan lagi. Memang sempat terjadi kecelakaan di  daerah Tarutung. Hal ini disebabkan jalanan sepanjang Mandailing Natal – Tarutung kondisinya tak stabil. Sebagian mulus sebagian lagi rusak parah karena perbaikan jalan yang belum juga selesai. Bekas jembatan yang putus karena banjir bandang sudah diperbaiki.Kerusakan jalan ini membuat perjalanan agak terhambat. Jalanan tanah berbatu lagi-lagi menguji ketangguhan suspensi Terios. Ternyata suspensi Terios masih oke.



Sisi menarik dari kehadiran Terios 7-Wonders, mobil ini bukan sekadar menawarkan kenyamanan dan keamanan berkendara, tetapi juga sebagai penyaluran hobi berpetualang bagi para petualang. Konsep Sahabat Petualang yang dilekatkan pada mobil ini sangat pas karena memenuhi semua kriteria dan kebutuhan yang diinginkan para penghobi bertualang. Ke depan, mungkin perlu dikembangkan lagi konsep Mobil Sahabat Petualang menjadi mobil land cruiser yang lebih hebat dan futuristik dengan menambah elemen-elemen teknologi mutakhir! Bravo, Terios7-Wonders!

Rabu, 13 Juni 2012

Memanfaatkan Teknologi Digital Untuk Kemajuan Bangsa Indonesia

Kemajuan teknologi berdampak pada perubahan sosial budaya dan perilaku hidup masyarakat. Lihat saja sekarang di mana-mana banyak orang menenteng hape, bukan sekadar hape biasa yang untuk menelepon dan sms, tapi juga bisa untuk internetan. Bahkan berkat perkembangan dan kemajuan teknologi digital perangkat komunikasi seluler itu telah dilengkapi operasi system (OS) yang lebih canggih, sehingga kemampuannya lebih kompitabel. Istilah hape android atau smartphone (ponsel cerdas) bukan hal aneh lagi. Karena gadget satu ini sudah mampu mencakup segala keperluan dan kebutuhan penggunanya, terutama dalam menunjang mobilitas dan aktivitas (pekerjaan) sehari-hari. Hampir semua profesional di berbagai bidang sangat bergantung pada perangkat komunikasi seluler ini!

Era teknologi digital memang banyak membawa dampak positif bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. Pemanfaatan teknologi digital mampu memberikan perubahan signifikan pada kehidupan masyarakat. Banyak pekerjaan atau aktivitas yang biasanya dilakukan secara tradisional atau konvensional bisa diambil alih oleh teknologi digital dengan hasil yang tak kalah bagus, bahkan lebih cepat, akurat, dan perfect. Prinsip efesiensi, kepraktisan, fleksibilitas, dan ekonomis menjadi satu keunggulan teknologi digital. Dengan pemanfaatan teknologi digital berbagai kemudahan bisa kita dapatkan. Sebagai contoh kecil; dulu kalau mau belanja orang repot bawa banyak uang di dompet dengan resiko dicopet atau hilang di jalan, tapi sekarang cukup dengan kartu kredit atau kartu ATM lebih praktis. Dulu menulis surat dengan selembar kertas dan pakai perangko, pakai waktu lama lagi. Tapi sekarang cukup dengan menulis SMS atau email tinggal kirim dan sampai ke tujuan tanpa GPL (gak pake lama, istilah anak zaman sekarang)!

Sebagai orang yang menekuni dunia menulis selama lebih dari 20 tahun, saya merasakan benar kemanfaatan dari kehadiran teknologi digital ini. Dulu pada sekitar tahun 90-an hingga awal 2000 saya biasa menulis dengan menggunakan mesin tik. Untuk mengirim tulisan ke media massa (suratkabar, tabloid, atau majalah) saya membutuhkan kertas, pita tik, amplop, lem, dan tentu saja prangko. Semua itu membutuhkan biaya tidak sedikit. Jika salah dalam mengetik atau mau mengedit sebuah tulisan saya kadang harus membuang banyak kertas, karena redaktur media massa biasanya tak mau menerima tulisan yang banyak coretan atau noda tip-ex. Saya juga harus membuat salinan atas tulisan yang saya kirim agar kelak jika tidak dimuat saya bisa mengirimkan ke media lain, tentu saja dengan mengetik ulang. Bisa dibayangkan betapa repot, ribet, dan susahnya, kan? Sudah banyak buang uang, waktu, tenaga, dan pikiran. Lebih apesnya lagi kalau manuskrip tulisan karya kita hilang atau rusak karena suatu sebab semisal; dimakan rayap, kebanjiran, kebakaran, dan lain-lain.

Semua kerepotan dan keribetan itu bisa teratasi ketika saya memiliki komputer pertama pada tahun 2002. Dengan menggunakan komputer saya bisa menulis dan mengedit tulisan dengan enak. Hasil tulisan juga bisa disimpan tanpa takut rusak atau hilang, karena saya simpan di disket atau CD. Jadi kalaupun komputer hang atau error bisa di-back up atau diinstal ulang. Untuk mencetak tulisan menggunakan printer. Tidak perlu harus mengetik ulang jika mau dicetak lagi. Memang sih, harga komputer dan printer cukup mahal. Tapi dinilai dari fungsi dan kegunaannya yang sangat kompitabel, tentu komputer lebih unggul dibanding dengan mesin tik konvensional.

Apalagi kemudian masuknya jaringan internet ke pelosok daerah dengan tarif akses yang relatif murah semakin membantu kerja saya sebagai penulis. Saya kini tak memerlukan lagi kertas, karena mengirim tulisan ke media massa bisa melalui e-mail (surat elektronik). Lebih praktis, fleksibel, efisien, dan ekonomis. Bahkan untuk tulisan yang disertai dengan foto (gambar) bisa langsung di-upload. Penggunaan jaringan internet sebagai sarana lalu lintas data (dokumen/file) secara signifikan mampu menekan penggunaan kertas yang pada akhirnya membantu menjaga kelestarian lingkungan. Karena bisa mengurangi penebangan kayu di hutan (sebagai bahan baku kertas) dan mengurangi limbah/sampah dari kertas.

Meningkatnya pengguna internet di dunia semakin mempertegas lagi era digital. Para produsen gadget dan komputer bersaing mengeluarkan produk-produk terbaru, lebih canggih, dan terjangkau oleh daya beli masyarakat. Mengingat pangsa pasar produk elektronik ini sangat besar. Di Indonesia sendiri pengguna layanan internet telah melewati angka 50 juta lebih. Sayangnya, kebanyakan pengguna internet di Indonesia terfokus pada kegiatan social media seperti facebook, twitter, badoo, twoo, netlog, dan yang sejenis. Jika diprosentase lagi yang memanfaatkan situs jejaring sosial itu untuk kegiatan bisnis, pemasaran, edukasi, training, atau kegiatan ekonomi kreatif lainnya sangat sedikit. Padahal dilihat dari sudut ekonomi peluang dan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan di situs jejaring sosial itu sangat besar sekali.

Para user internet di Indonesia sepertinya juga kurang memanfaatkan internet untuk kegiatan bisnis atau kegiatan positif lainnya. Padahal di negera maju seperti Amerika, negara-negara Eropa, dan Jepang, pemanfaatan internet untuk kegiatan ekonomi dan bisnis sangat besar sekali. Mereka memanfaatkan layanan website, blog, micro blogging, dan lain sebagainya untuk menunjang kegiatan ekonomi dan bisnis. Banyak dari mereka yang bisa mendapatkan penghasilan atau revenue sangat besar di internet. Bahkan kebanyakan mereka adalah orang-orang muda. Mungkin dalam benak kita muncul celetukan; ya kalau punya modal uang gampang saja menjalankan bisnis di internet. Kita kan kudu pakai domain plus hosting berbayar? Anggapan seperti itu tidak sepenuhnya benar. Untuk langkah awal, kita bisa menggunakan jasa layanan pembuatan blog gratis. Dengan situs gratis inilah kita bisa belajar berkreasi dan proses pengembangan diri. Bahkan kalau kita pandai memanfaatkan peluang, kita bisa mendapatkan banyak keuntungan dari layanan blog gratis ini.

Menjadi seorang blogger, istilah bagi pemilik website atau blog pribadi, memang banyak manfaatnya. Kita bisa berekspresi mengaktualisasikan diri kita dengan bebas dan mengembangkan potensi diri kita, terutama dalam hal menulis. Kita juga bisa memanfaatkan blog kita untuk kegiatan berpromosi dan berbisnis. Dengan memiliki blog sejatinya kita telah menunjukkan eksistensi diri. Kita juga bisa sharing sesama blogger dan tukar informasi dengan saling memasang link di blog masing-masing. Beberapa komunitas yang mewadahi para blogger diantaranya adalah Blogger Nusantara dan Komunitas Ngawur, bisa menjadi ajang silaturahmi dan komunikasi dengan sesama blogger. Para blogger bisa mendapatkan tips, trik, dan info-info menarik yang berguna bagi pengembangan blognya masing-masing.

Teknologi digital tidak hanya berkisar pada produk gadget dan komputer, tetapi juga produk elektronik lain seperti; televisi, kamera foto, kamera video, dan lain sebagainya. Pemanfaatan teknologi digital di Indonesia memang belum begitu besar mengingat konsumen produk ini relatif masih sedikit. Selain itu sumber daya manusia, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, dan sumber daya ekonomi masyarakat kita yang berbasis agraris menjadi faktor kurangnya pemanfaatan teknologi digital. Hal ini berbeda dengan negara-negara maju yang berbasis industri seperti; Amerika, negara Eropa, Jepang, dan yang lainnya. Mereka telah banyak memanfaatkan teknologi digital untuk kesejahteraan dan kemajuan bangsanya. Sebenarnya Indonesia bisa melakukan hal ini bila ada kemauan dan tekad kuat untuk mengejar ketertinggalan. Tapi banyak dari kita yang masih dihinggapi budaya malas dan berdalih gaptek, sehingga menurunkan daya saing dalam bidang teknologi digital.

Padahal jika kita mau belajar tidak ada hal yang tidak mungkin tidak bisa dilakukan. Banyak informasi dan pengetahuan berharga yang bisa kita dapatkan seputar teknologi digital yang bertebaran di internet. Bahkan untuk mempelajari hal ini tidak mesti harus mengeluarkan biaya besar alias gratis. Salah satu situs yang memberikan informasi bermanfaat seputar bidang teknologi digital adalah Pusat Teknologi. Di situs ini kita bisa menyerap banyak ilmu dan pengetahuan berharga dalam bidang teknologi, bahkan diberikan tutor segala. Uraiannya yang sangat jelas, terperinci, dan kompherensif mudah dicerna. Kita pun bisa cepat mempelajari dan mengaplikasikannya. Tak ada kata terlambat untuk belajar, apalagi dalam bidang teknologi. Kemajuan sebuah bangsa akan terlihat dari seberapa besar penggunaan produk teknologi yang terbarukan. Karena sifat teknologi yang terus berkembang dan terperbaharui, maka jangan sampai kita ketinggalan. Kita bangun kesadaran akan pentingnya pemanfaatan teknologi, khususnya teknologi digital, untuk kepentingan dan kemajuan bangsa Indonesia!


Kamis, 24 Mei 2012

Membangun Usaha Di Atas Kebersamaan

Seandainya saya CEO Group Bakrie :

Usia 70 tahun bukanlah usia yang muda. Ibarat sebuah pohon sudah menunjukkan kematangan dan kekokohannya. Mulai dari akar, batang, dahan, hingga rantingnya telah kuat. Semua unsur dari pohon itu pun telah mendatangkan kemanfaatan. Begitulah saya memberikan gambaran tentang kelompok usaha yang memasuki usia 70 tahun seperti Group Bakrie ini. Sebagai seorang CEO saya tentu sangat mengetahui kondisi dan situasi yang ada di dalam perusahaan yang saya pimpin ini!

Bukan hal mudah memimpin kelompok usaha sebesar dan setenar Group Bakrie ini. Dengan semua hal yang telah didapat dan dicapai, predikat sang pioner melekat pada perusahaan ini. Kapabilitas, kredibilitas, dan akuntabilitas dari perusahaan ini telah diakui oleh semua kalangan dengan telah mampu mencapai usia 70 tahun. Soliditas, integritas, dan loyalitas dari seluruh elemen yang berperan dalam menggerakkan roda bisnis Group Bakrie menjadi kunci utama. Kelebihan inilah yang senantiasa akan kami jadikan sebagai tagline perusahaan.

Merubah Paradigma

Sebagai kelompok usaha dengan nama besar dan mendunia, Group Bakrie telah menghasilkan banyak prestasi dalam beberapa bisnis yang digelutinya. Berbagai keuntungan dan penghargaan telah didapat oleh Group Bakrie melalui lini-lini perusahaan yang dijalankan. Tapi tidak bisa dipungkiri bila beberapa sisi kekurangan dan kelemahan masih menghiasi. Semisal tentang komunikasi sosial dan nama Bakrie yang selalu dikaitkan dengan persoalan politik atau musibah lumpur Lapindo di Sidoharjo, Jawa Timur. Justru disinilah tantangan kami untuk senantiasa memperbaiki segala kelemahan dan kekurangan itu agar tercapai kesempurnaan.

Banyak isu di luar yang mengatakan bahwa Group Bakrie hanyalah sebuah mesin untuk memperkaya pundi-pundi keluarga Bakrie, bahkan ada yang beranggapan bisnis keluarga Bakrie sebagai kendaraan politik Aburizal Bakrie dalam menghadapi kompetisi suksesi pemimpin nasional 2015. Isu semacam ini bagi saya seperti dua sisi mata pedang. Di satu sisi bisa berdampak negatif karena bisa merusak citra dan kapabilitas perusahaan c.q keluarga Bakrie sebagai sasaran tembak, namun di sisi lain berdampak positif karena semakin mendongkrak nama keluarga Bakrie. Orang-orang jadi ingin tahu dan mengenal lebih dalam riwayat keluarga Bakrie!

Jika isu itu akan menjadi pendongkrak popularitas keluarga Bakrie, tentu saya sangat berterima kasih. Tapi bagi saya isu itu merupakan black campaign yang mesti di-counter secara arif dan bijak. Semua orang sah saja menganggap keluarga Bakrie menjadi semakin kaya raya berkat bisnis yang dijalankannya. Justru tesis ini menjadi indikator bahwa perusahaan milik keluarga Bakrie berkembang maju dan menguntungkan. Kemajuan dan keuntungan ini tentu saja tidak hanya berimbas pada surplus laba keluarga Bakrie sebagai pemilik saham, tetapi juga pada kesejahteraan karyawan karena income mereka juga meningkat. Kehidupan keluarga para karyawan semakin terjamin!

Mengenai isu bahwa kelompok usaha Group Bakrie hanya akan menjadi kendaraan politik Aburizal Bakrie, hal itu hanyalah isu murahan. Rakyat Indonesia sekarang sudah semakin cerdas dan bijak dalam memilih pemimpin. Mereka akan memilih pemimpin bukan sekadar berdasar popularitas dan latar sosial ekonominya, melainkan karena kapasitas individu dengan ukuran-ukuran kualitatif sebagai pemimpin. Bahwa Aburizal Bakrie ada kaitannya dengan perusahaan keluarga Bakrie itu tak bisa dipungkiri, tapi antara ranah politik dan bisnis tak bisa dicampur aduk.

Di negara-negara yang sudah maju, pengusaha yang terjun ke dunia politik sangat banyak, dan itu sah saja. Justru pengalaman sebagai pemimpin perusahaan bisa menjadi referensi dan tolak ukur seberapa besar kemampuannya dalam memimpin. Karena memimpin perusahaan hakekatnya juga memimpin sebuah negara kecil, dimana seorang pemimpin perusahaan harus pandai memanaje perusahaan agar tercapai kemajuan dan kesejahteraan karyawan yang menjadi rakyatnya. Dan saya yakin, rakyat Indonesia lebih melihat sosok Aburizal Bakrie karena kapasitas pribadinya sebagai pemimpin yang telah teruji!

Menyadari bahwa isu yang berkembang di luar lebih banyak menyoroti keluarga Bakrie sebagai pemilik perusahaan, bukan pada prestasi dan keunggulan usaha yang dijalankan, maka saya akan berusaha merubah paradigma itu. Kelompok usaha Group Bakrie bukan sekadar perusahaan milik keluarga Bakrie, melainkan juga milik seluruh karyawan dan keluarganya yang ikut andil dalam menggerakkan roda bisnis Group Bakrie. Kelompok usaha Group Bakrie ini tak ubahnya sebuah rumah besar yang di dalamnya berlindung ratusan ribu jiwa keluarga karyawan. Dengan semangat sense of belonging saya mengharapkan para karyawan yang bernaung dalam kelompok usaha Group Bakrie merasa seperti satu keluarga besar.

Selain merubah paradigma kelompok usaha Group Bakrie identik keluarga Bakrie atau hanya menguntungkan keluarga Bakrie an sich, saya juga akan merubah paradigma kelompok usaha Group Bakrie bukan sekadar perusahaan yang berorientasi pada kapitalisasi modal (profitable), tetapi juga berwajah lingkungan dan kemanusiaan. Di mana-mana dunia bisnis kerap dicap sebagai aktivitas yang berwajah kotor dan tak berperikemanusiaan, karena lebih banyak memikirkan mengeruk keuntungan finansial. Mereka seakan tak peduli pada lingkungan dan sisi-sisi sosial kemanusiaan.

Ada anekdot yang mengatakan; perusahaan itu tak ubahnya makhluk yang kerjanya cuma makan dan menggemukkan badan, tapi giliran mengeluarkan kotoran dibuang seenaknya. Kesan bahwa perusahaan adalah makhluk yang rakus, eksploitatif, tidak bertanggung jawab, dan perusak lingkungan harus segera dihapus. Sebagai CEO Group Bakrie saya akan berusaha mengembangkan usaha-usaha yang kreatif, inovatif, bertekhnologi tinggi, tapi juga berwajah humanis dan berwawasan lingkungan. Mungkin kita bisa membuat motto baru; apa yang kita makan (gunakan) dan buang akan sama bermanfaat.

Memanfaatkan Peluang Dalam Industri Seni dan Hiburan

Dewasa ini banyak usaha yang tak bisa dilepaskan dari pemanfaatan kemajuan teknologi informasi, seperti internet dan perangkat-perangkat yang mendukung hal itu. Tentu ini sebuah peluang dan kesempatan yang tak bisa diabaikan begitu saja. Industri di bidang sarana tekhnologi informasi dan variasinya maupun produk turunan yang menjadi pendukung dalam aktivitas tersebut sangat besar sekali nilai keuntungannya. Penemuan-penemuan di bidang teknologi terbarukan akan lebih besar potensinya untuk dijadikan lahan bisnis. Karenanya divisi riset dan pengembangan akan lebih saya dayagunakan!

Selain peluang usaha di bidang IT, bidang usaha lain yang tak kalah besar potensinya adalah industri seni dan hiburan. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang demikian besar (ke-5 dunia) dan tingkat kesejahteraan masyarakat yang makin meningkat, maka kebutuhan sekunder yang berhubungan dengan seni dan hiburan akan tumbuh pesat. Menurut Studi Kuntjoro (2008) penduduk Indonesia golongan menengah berjumlah 40 % dan golongan kaya raya 20 %. Dengan GDP US$ 13.000 atau di atas Rp. 120 juta pertahun sebanyak 20 % atau 47,6 juta penduduk Indonesia, dua kali lipat penduduk Malaysia. Dan setiap tahun diperkirakan dari golongan ini bertambah sekitar 10 %. Maka tak heran bila jalan raya kita macet karena dipenuhi mobil dan sepeda motor, bandara penuh dengan orang-orang bepergian, mal, pusat perbelanjaan, salon, bioskop, dan tempat-tempat hiburan ramai dikunjungi.

Karenanya industri kreatif dalam bidang seni dan hiburan seperti; film, musik, lagu, buku, pertelevisian, seni lukis, seni panggung, pariwisata, dan lain sebagainya sangat besar sekali potensinya untuk dikembangkan sekaligus menjadi lahan bisnis yang tak pernah kering. Konsumsi masyarakat atas produk/jasa di sektor ini akan terus meningkat. Mungkin Group Bakrie bisa bikin lini usaha baru dengan nama Bakrie Enterprise atau bikin studio besar macam MGM, 20 Century Fox, Paramount Picture’s, dan semacamnya seperti di Amerika. Atau membangun wahana hiburan macam Disney Land, Disney World, dan semacamnya dengan corak atau style beda. Intinya, bisnis yang berkaitan dengan bidang seni dan hiburan digarap sedemikian rupa hingga menghasilkan nilai tambah luar biasa.

Ancaman Dan Tantangan Dihadapi Dengan Kearifan

Dunia usaha tak pernah sepi dari intrik, persaingan, dan krisis. Semua itu bisa dianggap sebagai ancaman tapi juga tantangan. Selama kita tetap tenang dan berpikir positif, niscaya semua persoalan bisa diatasi. Sebagaimana sebuah pohon berusia 70 tahun yang kokoh dan tinggi menjulang, kita tentu sudah cukup berpengalaman dan punya resistensi terhadap badai persoalan. Kami tahu, para kompetitor berlomba-lomba berusaha menggeser kedudukan kami. Dinamika pasar yang fluktuatif dan unpredictable menjadi tantangan tidak ringan. Ancaman krisis ekonomi akibat perubahan peta politik dan kebijakan, baik secara nasional atau global juga harus selalu dicermati. Kesiapan dan antisipasi secara matang dan bijaksana merupakan solusi efektif dalam menghadapinya.

Sebagai CEO Group Bakrie posisi saya tentu berada di pucuk pohon. Sebuah kedudukan yang tidak ringan, karena terjangan angin dan badai akan lebih mudah mengombang-ambingkan, bahkan bisa mematahkannya. Tapi selama akar, batang, dan dahan yang mendukung dari bawah sangat kuat, niscaya semua itu akan mudah dihadapi. Sebagai pimpinan saya mesti memiliki keteguhan hati dan kejernihan dalam berpikir sehingga mampu mengatasi setiap persoalan yang muncul. Saya juga harus mampu menguatkan kepercayaan diri para karyawan dan relasi untuk senantiasa memelihara loyalitas maupun integritas. Sebagai nakhoda kapal saya mengemban amanah membawa seluruh penumpang ke dermaga tujuan dengan selamat dan sentosa!

Dengan posisi di pucuk pohon mengharuskan saya untuk meluaskan cakrawala pandang. Saya mesti tahu situasi dan kondisi yang sedang terjadi di luar. Mentransformasikan beberapa ilmu dan pengetahuan baru. Menginternalisasi nilai-nilai positif yang bermanfaat dan memberi nilai tambah bagi perusahaan. Serta tak lupa untuk selalu mendengar, membaca, merespon, dan berbagi (sharing) atas setiap persoalan yang muncul, karena sebagaimana yang saya kemukakan di atas, kelompok usaha Group Bakrie adalah sebuah rumah besar yang didiami sebuah keluarga besar pula. Kepala keluarga (baca; CEO) hakekatnya adalah pengemban amanah dan pelayan bagi seluruh anggota keluarga. Kemajuan dan keuntungan perusahaan bukan semata hasil kerja sang CEO, melainkan buah kerja keras seluruh elemen yang ada dalam perusahaan. Karena kami menjunjung tinggi kebersamaan, bukan perorangan atau golongan. Group Bakrie, milik kita bersama! (*)

Minggu, 20 Mei 2012

Sepatu Butut Mengajarkan Aku Arti Perjuangan Hidup

Pengalaman Pribadi :
Oleh Eko Hartono

Bicara soal sepatu, aku jadi ingat masa sekolah dulu. Pada tahun 1983, saat masih SMP, aku punya sepasang sepatu warna hitam. Tidak seperti Pak Dahlan Iskan yang dari SD, SMP, hingga SMA tak punya sepatu. Aku sendiri juga bukan dari keluarga berada, tapi bersyukur orang tua masih bisa membelikan sepatu. Namun tidak seperti anak zaman sekarang, setiap pergantian semester sudah ganti sepatu atau paling tidak setahun sekali. Aku hanya punya satu-satunya sepatu yang tak pernah ganti selama 3 tahun!

Bisa dibayangkan, bagaimana kondisi sepatu itu? Belum ada setahun dipakai, kondisinya sudah berubah. Warnanya yang hitam berubah kusam, alasnya menipis, kulit sepatu yang terbuat dari kain terburai jahitannya, bahkan pada ujungnya berlobang, memperlihatkan jempol kaki. Pernah karena talinya putus, terpaksa aku menggantinya dengan tali rafia! Agar warnanya tidak kusam, aku menggosoknya dengan arang sebagai pengganti semir!

Kenapa aku tetap bertahan memakai sepatu itu? Bukan karena aku mencintainya, tapi karena keadaan. Orang tua tidak mampu membelikan yang baru. Dalam hati aku sebenarnya pengen dibelikan yang baru, tapi apa mau dikata, aku mesti memahami keadaan orang tua. Aku masih punya tiga orang adik yang membutuhkan perhatian juga. Mau tak mau aku mesti ‘mencintai’ sepatu itu!

Karena sepatu itu setia menemaniku selama tiga tahun lamanya, sehingga ia sudah menjadi bagian dari hidupku. Keberadaannya tak bisa dipisahkan dari aktivitasku belajar di sekolah. Berbagai suka duka telah kulewati bersama sepatu itu. Tapi ada satu yang amat berkesan dan sampai sekarang terbayang dalam benakku. Saat kelas 2 SMP, guru Bahasa Indonesia meminta murid-murid menulis puisi dengan tema lingkungan sekitar.

Entah kenapa, secara spontan aku menuliskan perasaanku tentang sepatu itu. Sayang, aku kehilangan teks aslinya. Tapi aku masih ingat betul bagaimana isi puisi tersebut. Dengan bahasa yang jujur aku mengungkapkan keadaan sepatu itu. Aku tuliskan bahwa sepatu itu sudah butut, warnanya kusam, jempol kaki mengintip dari balik lubang, alasnya yang tipis seperti tak memakai sepatu sehingga menginjak kerikil pun terasa di kulit. Meski demikian aku menganggap sepatu itu pahlawan karena membantuku menuntut ilmu!

Tiba-tiba Pak Guru memintaku maju ke depan untuk membacakan puisi karyaku. Tentu saja aku jadi gugup dan tegang. Kupikir Pak Guru marah dan menganggap aku main-main menulis puisi yang isinya tidak puitis. Bahkan teman-temanku pada tertawa selesai aku membacakan puisiku. Mungkin mereka menganggap lucu isi puisiku. Tapi tidak demikian dengan Pak Guru. Beliau malah memujiku dan memberi nilai 10 atas puisi itu!

Pak Guru lalu menerangkan bahwa puisi yang baik adalah puisi yang ditulis dengan penuh penjiwaan atau penghayatan atas pengalaman hidup si penulis. Pak Guru memberi motivasi kepadaku agar memupuk kemampuanku dalam menulis, karena beliau melihat aku berbakat menjadi pengarang. Pujian dan dorongan semangat dari Pak Guru itulah yang secara tidak langsung ikut berperan dalam karirku kemudian hari di bidang kepenulisan.

Sudah duapuluh tahun lebih aku menekuni dunia kepenulisan, meski tidak tergolong penulis ternama, tapi setidaknya dari kegiatan menulis aku bisa hidup mandiri dan mampu menghidupi keluarga. Pengalamanku di masa lalu dengan sepatu butut itu secara tidak langsung ikut membentuk kepribadianku. Karena sepatu butut itu telah mengajarkan aku untuk menghargai nilai sebuah benda dan memahami arti perjuangan hidup! (*)